Waspadai Dampak Kesehatan Penderita Homoseksualitas

Homoseksualitas adalah rasa ketertarikan romantis dan/atau seksual atau perilaku antara individu berjenis kelamin atau gender yang sama. Sebagai orientasi seksual, homoseksualitas mengacu kepada “pola berkelanjutan atau disposisi untuk pengalaman seksual, kasih sayang, atau ketertarikan romantis” terutama atau secara eksklusif pada orang dari jenis kelamin sama, “Homoseksualitas juga mengacu pada pandangan individu tentang identitas pribadi dan sosial berdasarkan pada ketertarikan, perilaku ekspresi, dan keanggotaan dalam komunitas lain yang berbagi itu.”

Homoseksualitas adalah salah satu dari tiga kategori utama orientasi seksual, bersama dengan biseksualitas dan heteroseksualitas, dalam kontinum heteroseksual-homoseksual. Konsensus ilmu-ilmu perilaku dan sosial dan juga profesi kesehatan dan kesehatan kejiwaan menyatakan bahwa homoseksualitas adalah aspek normal dalam orientasi seksual manusia. Homoseksualitas bukanlah penyakit kejiwaan dan bukan penyebab efek psikologis negatif; prasangka terhadap kaum biseksual dan homoseksual-lah yang menyebabkan efek semacam itu.[3] Meskipun begitu banyak sekte-sekte agama dan organisasi “mantan-gay” serta beberapa asosiasi psikologi yang memandang bahwa kegiatan homoseksual adalah dosa atau kelainan. Bertentangan dengan pemahaman umum secara ilmiah, berbagai sekte dan organisasi ini kerap menggambarkan bahwa homoseksualitas merupakan “pilihan”.

Aspek Kesehatan Homoseksualitas

  • Istilah-istilah ini sering digunakan dalam literatur medis dan penelitian sosial untuk menggambarkan kelompok-kelompok tersebut dalam penelitian, tanpa perlu mempertimbangkan isu-isu seksual identitas diri. Namun, istilah-istilah ini dilihat sebagai masalah karena “mengaburkan dimensi sosial dari seksualitas, merusak pelabelan pada orang-orang lesbian, gay, dan biseksual, dan tidak cukup menjelaskan variasi dalam perilaku seksual”. 
  • LSL dan PSP aktif secara seksual satu sama lain untuk berbagai alasan terutama kepuasan seksual, keintiman dan ikatan. 
  • Berbeda dengan manfaatnya, perilaku seksual dapat menjadi vektor penyakit. Seks yang aman dinilai sangat relevan guna mengurangi dampak buruk. 
  • Saat ini Amerika Serikat melarang laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) untuk menjadi donor darah “karena mereka, sebagai kelompok memiliki tingkat risiko HIV lebih tinggi untuk hepatitis B dan infeksi tertentu lainnya yang dapat ditularkan melalui transfusi.” Britania Raya[ dan banyak negara Eropa menerapkan larangan yang sama.
  • Kesehatan masyarakatSunting

    Berikut merupakan rekomendasi perilaku seks yang lebih aman yang telah disepakati oleh para pejabat kesehatan masyarakat bagi para perempuan yang berhubungan seks dengan perempuan (PSP) agar terhindar dari infeksi-infeksi menular seksual (IMS):

    • Hindari kontak dengan darah haid pasangan dan dengan lesi genital yang terlihat.
    • Lindungi/tutupi peralatan/mainan seks yang digunakan pada lebih dari satu vagina atau anus dengan kondom baru untuk masing-masing orang; pertimbangkan untuk menggunakan mainan yang berbeda untuk setiap orang.
    • Gunakan penghalang (misalnya, lembaran lateks, rubber dam, kondom khusus perempuan, bungkus plastik) selama seks oral.
    • Gunakan sarung tangan lateks atau vinil dan pelumas untuk setiap hubungan seks yang menggunakan tangan yang mungkin dapat menyebabkan perdarahan.

    Rekomendasi seks yang lebih aman yang disepakati oleh para pejabat kesehatan masyarakat bagi laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) agar terhindar dari infeksi menular seksual (IMS):

    • Hindari kontak dengan cairan tubuh pasangannya dan dengan lesi genital yang terlihat.
    • Gunakan kondom untuk seks anal dan oral.
    • Gunakan penghalang (misalnya, lembaran lateks, rubber dam , kondom) selama seks oral dan anal.
    • Lapisi peralatan/mainan seks yang digunakan oleh lebih dari satu orang dengan kondom baru untuk masing-masing orang; pertimbangkan untuk menggunakan mainan yang berbeda untuk setiap orang dan menggunakan lateks atau sarung tangan vinil dan pelumas untuk setiap hubungan seks yang mungkin dapat menyebabkan perdarahan.

    KejiwaanSunting

    • Ketika pertama kali dijelaskan dalam literatur medis, homoseksualitas sering didekati melalui pandangan-pandangan yang berusaha untuk menemukan psikopatologi sebagai akar penyebab terjadinya homoseksualitas. Banyak literatur tentang kesehatan kejiwaan dan pasien homoseksual berpusat kepada depresi, penyalahgunaan zat, dan bunuh diri. Meskipun masalah ini terjadi pada kaum non-heteroseksual, namun perdebatan tentang penyebab-penyebab terjadinya homoseksualitas seseorang bergeser setelah ia dihapus dari daftar kelainan dalam buku Diagnostic and Statistic Manual (DSM) pada tahun 1973. 
    • Sebaliknya, pengucilan sosial, diskriminasi hukum, internalisasi stereotip negatif, dan struktur dukungan yang terbatas menunjukkan faktor-faktor yang dihadapi kaum homoseksual dalam masyarakat Barat berpengaruh pada kesehatan mental mereka. Stigma, prasangka, dan diskriminasi yang berasal dari sikap negatif masyarakat terhadap homoseksualitas mengarah pada prevalensi yang lebih tinggi dari gangguan kesehatan kejiwaan di kalangan lesbian, pria gay, dan biseksual dibandingkan dengan rekan-rekan heteroseksual mereka. Bukti menunjukkan bahwa liberalisasi sikap selama beberapa dekade terakhir berkaitan dengan penurunan risiko gangguan kesehatan kejiwaan di kalangan muda LGBT.

    Gay dan lesbian mudaSunting

    Remaja gay dan lesbian menanggung risiko bunuh diri, penyalahgunaan obat, masalah sekolah, dan isolasi yang lebih besar karena “lingkungan yang tidak bersahabat dan penuh cela, adanya pelecehan verbal dan fisik, penolakan dan isolasi dari keluarga dan teman sebaya”. Kaum muda LGBT pun lebih terbuka untuk melaporkan pelecehan psikologis dan fisik oleh orang tua atau pengasuh mereka, dan juga pelecehan seksual. Kemungkinan terjadinya hal ini adalah bahwa (1) LGBT muda dapat secara spesifik ditargetkan atas dasar orientasi seksual yang tampak/terlihat atau gender yang tidak sesuai dengan penampilan mereka, dan (2) bahwa “faktor risiko yang terkait dengan status minoritas seksual, termasuk diskriminasi, ketidakberadaan, dan penolakan oleh anggota keluarga meninggikan kemungkinan risiko untuk menjadi korban, seperti penyalahgunaan zat, hubungan seks dengan banyak pasangan, atau lari dari rumah. “Sebuah penelitian 2008 menunjukkan korelasi antara tingkat penolakan oleh orang tua remaja LGB dan masalah kesehatan negatif:

    Tingginya tingkat penolakan keluarga secara signifikan berhubungan dengan hasil kesehatan yang buruk. Berdasarkan perbandingan rasio, kalangan lesbian, gay, dan biseks dewasa yang melaporkan tingkat penolakan keluarga yang lebih tinggi selama masa remaja berisiko 8,4 kali lebih besar telah melakukan percobaan bunuh diri, 5,9 kali lebih mungkin untuk depresi, 3,4 kali lebih mungkin untuk menggunakan obat-obatan terlarang, dan 3,4 kali lebih mungkin untuk terlibat dalam hubungan seks tanpa pengaman dibandingkan dengan teman sebaya dari keluarga dengan tingkat penolakan keluarga rendah atau tidak ada sama sekali.

    Crisis Center (lembaga yang membantu remaja dan/atau dewasa yang mengalami krisis kesehatan) di kota-kota besar dan situs-situs informasi di Internet telah muncul untuk membantu remaja dan dewasa. The Trevor Helpline, adalah layanan pencegahan bunuh diri untuk remaja gay, yang didirikan setelah penayangan film Trevor, pemenang film pendek Piala Oscar, di HBO 1998.

  • Iklan

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s